Feeds:
Tulisan
Komentar

Apakah Anda masih ingat tentang berita Metro 10 yang menyajikan bahwa peringkat teratas prestasi yang paling membanggakan Indonesia rupanya Bulu Tangkis?

Ketika seluruh Indonesia menargetkan Piala Thomas tergeletak di tempat kehormatannya di Indonesia, kesedihan menyeruak. Mimpi itu kandas setelah Sony Dwi Kuncoro dikalahkan dalam 3 set, 21-12, 12-21, 21-19. Begitu juga Markis Kido, kakak Pia Zebadiah, dan pasangannya Hendra Setiawan. Taufik Hidayat yang dipundaknya terletak tonggak yang sangat berat untuk, paling tidak, menunda kemenangan Korea Selatan rupanya tampil mengecewakan setelah dikalahkan tunggal kedua Korea, Lee Hyun Ii. Akhirnya malam tragis ini, 16 Mei 2008, piala itu lenyap setelah Korea menang telak 3-0 atas Indonesia. Sontak, kekalahan ini membua t8.000 pendukung Indonesia di Istora menangis.

—Ayo Indonesia, jangan bersedih. Terus ukir prestasimu—

Thomas akan diperebutkan oleh China dan Korea setelah China sebelumnya mengalahkan Malaysia dengan score 3-2. Ada yang unik dari pertandingan China melawan Malaysia. Lin Dan, sang peringkat pertama WBF kalah tersungkur hanya dalam 2 set pertandingan, setragis Taufik Hidayat rupanya.

China memang tidak bisa dipungkiri kecantikannya dalam bermain. Dengan gagah mereka melumpuhkan serangan-serangan lawan, kemudian memasuki final untuk meraih Thomas dan Uber. Padahal jika Indonesia tadi malam mampu melawan serangan Korea, maka Indonesia akan berhadapan dengan China untuk merebut kedua piala.

Indonesia versus China untuk Uber

Sekarang konsentrasi penuh untuk merebut Piala Uber. Uber dalam genggamanmu wahai Srikandi-Srikandi. Tentunya, kami bangsa Indonesia akan bermunajat dan terus berdoa untuk perjuanganmu, pahlawan-pahlawanku.

Kak Pia, Jo, Gracia, Maria, Liliana, Vita, Ardianti. Kami berharap banyak. Kami letakkan mimpi-mimpi di pundak kakak-kakak. Semoga merajai turnamen ini.

Anak-anak kecil yang belum mengertipun bisa bercermin lewat genangan darah
Ibu dan kedua puteranya satu liang
Ayah dan seorang balitanya satu keranda
Mayat-mayat balita tak berdosa teracung ke atas
Tidak ada lagi rumah sakit yang menyembuhkan
Tiada hari tanpa men-sholatkan jenazah
Tiada hari tanpa jerit dan tangis pilu

Ayah-ayah terpaksa berjuang dengan menggendong mayat anaknya yang tadinya begitu semangat membela agamanya, membela harga diri keluarganya
Namun akhirnya mereka berdua menjadi mayat
Tidak ada yang bisa dilakukan muhrimnya selain menangisi dan menciumi raga tak berjiwa itu

Ribuan lukisan airmata tersimpan di dalamnya lautan darah…

Gambar-gambar yang menyingkap airmata ibu yang meratapi tubuh anaknya
Wajah keriput yang telah kering airmata, mencium wajah damai puteranya yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai tentara Allah. Begitu pucat dan penuh kemenangan

Air mata isteri yang kehilangan suaminya
Wanita berhidung mancung, cadarnya basah
Memegangi selembar kenangan dari yang sangat dicintainya
Kini tak tahu di mana lelaki tempatnya mengadu rasa
Apakah Allah sudah mengangkatnya ke langit?
Apakah makhluk Allah yang belum mendapat hidayah telah menyergapnya di suatu tempat tanpa memberinya makan?
Ataukah ia masih bergumul dengan lautan darah bersama tentara2 Allah lainnya?

Air mata anak yang kehilangan topangan hidupnya
“Abi…” teriak balita-balita yang seharusnya setiap pagi mereka ciumi tangannya.
Siapa sekarang yang memberi mereka jajan?
Siapa yang akan memberi mereka rasa aman?
Siapa yang memberi mereka pengertian bahwa Allah itu maha pengasih?

Airmata saudara kita yang kehilangan sebagian dari tubuhnya

Lelaki tegap dengan tangis dan tubuh lemah menggendong tubuh lunglai tak berdaya. Lelaki itu menangis tak henti ketika ia tahu benwa ia sedang menggendong mayat sahabat yang paling dicintainya
Sahabat sejak kecil
Sahabat bermain sepak bola
Sahabat untuk mencurahkan asa
Sahabat pemberi semangat
Sahabat yang memberikan tawa
“SEKARANG AKU MENGGENDONG MAYATNYA!” teriaknya.

Jalan-jalan yang dulu indah kini menjadi kuburan masal
Rumah-rumah indah nun kokoh tempat berteduh kini tidak lagi tampak nyaman, hancur
Namun dari sela-sela itu masih ada terdengar tawa balita botak
Ummi pun masih bersyukur bahwa ia masih memiliki balita malang tak berayah itu
Kecerian masih ada di balik reruntuhan rumahnya yang telah susah payah mereka bangun
Namun ketakutan, kecemasan, kengerian tidak dapat disembunyikan dari sebuah keceriaan…

Sosok anak-anak mungil dan cantik, kini terbungkus kain pocong
Tubuh tegap dan gagah, kini sedang diangkut dalam keranda hijau
Tidak satu dua, saudaraku, tetapi jutaan

Tangan-tangan bertengadah terangkat ke atas
Wajah sendu kering airmata, bibir bergetar, namun mereka yang teraniaya masih mengingat Rabb yang Maha Pengasih
Meminta bantuan-Nya yang Maha Hebat, yang Maha Pemilik Rahasia

“Ya Allah, akhirilah peperangan ini dengan Kuasa-Mu. Berilah kami ketabahan dan kekuatan dalam menjalani hidup tanpa orang-orang yang kami kasihi. Ampunkanlah dosa-dosa mereka yang telah gugur membela kami. Hanya kepada Engkau kami meminta, hanya kepada Engkau kami berserah diri. Amin.”

Cuci Sepeda Motor

Aku menggeleng lelah ketika tanganku terluka karena mencuci sepeda motor yang dipakai ayah. Ayah hobi memancing di tempat terpencil yang jalannya rusak dan membuat sepeda motorku sulit dicuci.
Aku membanting sikat dan melemparkan sabun ke jok sepeda motor. Sambil marah-marah aku mengeluarkannya dari garasi dan menghadapkannya ke luar pagar. Aku berencana mencucinya ditempat pencucian umum saja ketimbang marahku menjadi-jadi dan membuatku durhaka.
Ketika sampai di tempat pencucian sepeda motor itu, aku segera disambut gembira oleh pemuda-pemuda pegawai usaha pencucian itu. Mereka berebut menawarkan diri sebagai pencuci. Aku hanya tersenyum dan meninggalkan sepeda motorku, menuju balai-balai yang beratapkan rumbia.
Pemuda berusia belasan yang memakai topi dengan sigap menggotong sepeda motorku lalu mulai menyikat dan menyemprotnya dengan selang air. Ia juga menghempaskan ember kecil berisi sabun ke depannya. Dengan cepat dan cekatan ia menggosok, seolah tidak merasa sakit ketika terkena kawat atau jeruji.
Sebuah mobil mewah datang. Mereka mulai menawarkan diri lagi, si supir memilih calon pencuci yang kulitnya paling cerah. Aku melihat lelaki berperut buncit dan lelaki yang sudah berumur kecewa dengan pilihan supir itu. Mereka duduk kembali dan menunggu rezeki yang lain akan datang.
Aku tersentuh dengan semangat mereka. Dan aku juga merasa tidak enak karena ketika pertama sampai ke sini, aku memandangi air yang mengalir di kakiku dengan jijik. Aku merasa aku adalah perempuan sok suci, sok borjuis.
Aku memandangi mereka yang menggigil karena mereka memakai pakaian yang basah. Aku sangat terenyuh, begitukah orang tuaku rela berkorban demi memberiku makan? Aku memandangi semua pegawai di tempat pencucian itu, mereka semangat dan cekatan dengan pekerjaan mereka, kecuali dua lelaki yang belum beruntung itu. Aku berdoa di dalam hati, semoga mereka semua mendapat berkah dan penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Mereka adalah kumpulan pemuda-pemuda yang kurang beruntung namun mencoba peruntungan dengan jalan terpuji. Aku lebih senang bertemu mereka dari pada anak pejabat.
Semua orang tahu alasannya.
Aku memperhatikan pemuda tadi, bagian yang tidak pernah aku sentuh pun di sikatnya sampai mengkilap. Sejak membeli tujuh tahun lalu, debu di bawah slebor tidak pernah kulirik dan hari ini, dalam sekejap aku melihat sepeda motorku seperti tujuh tahun yang lalu.
Lelaki itu dengan senyum riang bercanda dengan lelaki lain yang sedang mencuci mobil mewah. Aku bisa membaca seolah mereka tidak peduli dengan lelah dan penat dari lengan mereka.
Ketika selesai, pemuda tadi menghampiri aku dengan semangat. 25 menit berlalu tanpa berhenti dari memungsikan tangannya, ia tersenyum kepadaku sambil memberikan kunci. Ketika kutanyai, harga yang tidak masuk akal membuatku semakin iba dengan kepolosannya. Sebelas ribu rupiah bukanlah harga yang pantas untuk semangat mereka dan tangan cekatan yang aku tidak pernah punya.

Pria Mungil

Ibu meminta saya untuk membeli nasi goreng untuk oleh-oleh beliau ke pesantren adik ke kedai yang lumayan terkenal. Dengan senang hati karena imbalan berupa seporsi nasi goreng lezat, saya segera menuju kedai itu. Malam yang cukup cerah ini membuat kedai itu ramai dikunjungi orang, bahka lebih ramai dari hari-hari biasa karena sekarang malam Minggu.
Saya bingung harus melakukan apa karena pengunjung bejubel. Saya terpaksa kembali ke parkiran, menunggu pengunjung berkurang. Saya duduk berdampingan dengan pria bertubuh mungil.
Setelah pengunjung lumayan berkurang, saya dan pria mungil tadi menuju ke kedai. Pria itu segera mengibas-ngibaskan uangnya dan memesan satu porsi nasi goreng yang paling murah, tanpa lauk apapun. Namun yang membuat saya terenyuh adalah, penjual nasi goreng itu melayani saya tanpa menghargai pria tadi.
Ketika aku perhatikan lebih seksama, pria tadi berkulit legam. Wajahnya kecil, rambutnya kriting tidak beraturan. Ia menggunakan kaus dekil hadiah ketika pesta rakyat dan celana pendek yang sangat lusuh. Aku melirik kakinya, ia telanjang kaki dan kuku-kukunya rusak.
Ia sedikit iri denganku karena gilirannya diserobot, namun aku hanya diam tidak kuasa berkata apa-apa kepadanya begitu juga memprotes si penjual. Ia mengeluarkan suara yang aku dengar seperti rintihan sambil mengibas-ngibaskan uangnya lagi.
Beberapa pengunjung datang dan segera memesan tanpa mengantri. Aku melihat ke arah lelaki itu, ia hanya diam ketika dizholimi. Aku bersuara lantang dan sangat mengganggu si penjual, aku meminta keadilan dari penjual untuk melayani beliau.
Penjual itu segera membungkuskan nasi goreng kepada pria mungil tadi. Setelah mendapat sebungkus nasi, senyumnya mengembang menjadi obat kepedihan setelah seharian mencari berkah. Aku tak kuasa menahan air mata, mataku berkaca-kaca sambil memerhatikan kepolosan beliau.
Ia berlalu menuju parkiran kemudian mengeluarkan seonggok rangkaian besi tua berbentuk sepeda dengan perlengkapan bertukang yang diikat. Ia tidak mengendarai sepeda itu hingga di jalan raya, saat kuperhatikan ternyata bannya kempes.
Dalam benakku, pastilah ia seorang ayah. Aku membayangkan anak-istrinya menungguinya di dalam gubuk dalam keadaan kelaparan.
Setelah nasi goreng kudapatkan, aku pulang. Hujan lebat disertai badai menghantam dinding dan atap rumah setelah aku menyelimuti diri di kamarku. Suara riuh angin puting beliung yang menghantam kelurahan sebelah terdengar hingga ke tembok kamarku.
Ayah ibuku di jalan.

Aku Adalah Isteri

Saya adalah seorang siswi kelas XII, artinya sebuah tingkatan yang sangat menentukan mau jadi apa saya nanti. Saat ini, teman satu angkatan di sekolah sedang menyibukkan diri dengan persiapan PMDK di universitas-universitas kebanggaan mereka (bahkan dengar-dengar, sekolah hendak menyetor kelas khusus kami ke UI). Terlepas dari embel-embel hendak mengikuti PMDK, UNAS, SPMB, USM, atau apa sajalah istilahnya, saya justru lebih memilih untuk memikirkan tentang kelanjutan kehidupan saya nanti, bukannya keoptimisan untuk memasuki universitas favorit.
Saya seorang wanita yang lebih memikirkan emosional daripada cita-cita. Dalam konteks ini, emosi yang saya maksudkan adalah perasaan halus seorang wanita yang memikirkan cinta ketimbang cita-cita yang tidak tahu akan bertiup kemana. Dalam benak saya, saya selalu cemburu bila melihat sepasang suami isteri yang sedang belanja wedding’s dress maupun ketika sang suami mengantarkan isterinya mengontrol kehamilan. Saat-saat romantis seperti ini justru membuat saya gregetan.
Inilah pemikiran seorang siswi SMA yang kalut menghadapi ujian-ujian mengerikan. Hidup adalah pilihan. Ketika menginjakkan kaki di dunia ini, kita sudah harus tahu kemana bahtera kaki akan menuju. Menjadi seorang yang berbudi baikkah atau menjadi bulan-bulanan orang? Menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi atau kesana kemari mendengar aib orang dan banyak bicara omong kosong? Atau kita memilih menjadi yang terbaik untuk diri sendiri atau mengabdikan diri untuk membahagiakan orang lain?
Sebenarnya saya tidak ingin cepat menikah. Saya juga sudah merencanakan untuk mengambil D3 Akbid karena setelah searching di serching engine, ternyata S1 Akbid belum ada. Sebenarnya saya sangat menyesalkan karena saya tidak mengambil PMDK padahal seluruh siswa di kelas khusus berhak. Tetapi hidup adalah pilihan, saya lebih memilih menjadi isteri yang berdiam dirumah, mengurusi segala sesuatu urusan rumah tangga dengan nyambi menjadi tenaga medis lepas ketimbang mendapat kesempatan sebagai seorang mahasiswi dengan kehilangan uang, waktu, tenaga, bahkan mungkin harga diri dan kenyataan pahit yang akan saya terima adalah perkantoran tidak menerima wanita yang sudah menikah.
Mungkin pilihan saya mencengangkan saat ini. “Jadi bidan kan gajinya sedikit?” Siapa bilang? Percayalah, apabila kepuasaan seseorang dalam menjalani pekerjaannya diukur dengan uang, maka bersiaplah untuk kecewa. Karena apa sih yang bisa kita harapkan dari atasan yang korup? Lembaga yang membela donatur? Atau lahan kerja yang bisa merugikan banyak makhluk? Uang hanya akan membuat kita malas kerja.
Saya memilih menjadi seorang bidan terutama karena saya memang sangat gemas dengan bayi yang baru dilahirkan. Bayi polos dengan segala kekurangan dan limpahan kasih sayang ketika ia di dalam dekap hangat ibunya. Kedua karena menjadi bidan tidak terikat dengan atasan, donatur kotor, bahkan lahan kerjanya adalah partner-partner yang mulia, serta waktu kerja yang ditawarkan semau kita!
Saya sudah memutuskan untuk mengabaikan hak saya berupa PMDK, dan menjalani apa yang bisa saya selesaikan ke depan.