Saya adalah seorang siswi kelas XII, artinya sebuah tingkatan yang sangat menentukan mau jadi apa saya nanti. Saat ini, teman satu angkatan di sekolah sedang menyibukkan diri dengan persiapan PMDK di universitas-universitas kebanggaan mereka (bahkan dengar-dengar, sekolah hendak menyetor kelas khusus kami ke UI). Terlepas dari embel-embel hendak mengikuti PMDK, UNAS, SPMB, USM, atau apa sajalah istilahnya, saya justru lebih memilih untuk memikirkan tentang kelanjutan kehidupan saya nanti, bukannya keoptimisan untuk memasuki universitas favorit.
Saya seorang wanita yang lebih memikirkan emosional daripada cita-cita. Dalam konteks ini, emosi yang saya maksudkan adalah perasaan halus seorang wanita yang memikirkan cinta ketimbang cita-cita yang tidak tahu akan bertiup kemana. Dalam benak saya, saya selalu cemburu bila melihat sepasang suami isteri yang sedang belanja wedding’s dress maupun ketika sang suami mengantarkan isterinya mengontrol kehamilan. Saat-saat romantis seperti ini justru membuat saya gregetan.
Inilah pemikiran seorang siswi SMA yang kalut menghadapi ujian-ujian mengerikan. Hidup adalah pilihan. Ketika menginjakkan kaki di dunia ini, kita sudah harus tahu kemana bahtera kaki akan menuju. Menjadi seorang yang berbudi baikkah atau menjadi bulan-bulanan orang? Menjadi pendengar yang baik dan pemberi solusi atau kesana kemari mendengar aib orang dan banyak bicara omong kosong? Atau kita memilih menjadi yang terbaik untuk diri sendiri atau mengabdikan diri untuk membahagiakan orang lain?
Sebenarnya saya tidak ingin cepat menikah. Saya juga sudah merencanakan untuk mengambil D3 Akbid karena setelah searching di serching engine, ternyata S1 Akbid belum ada. Sebenarnya saya sangat menyesalkan karena saya tidak mengambil PMDK padahal seluruh siswa di kelas khusus berhak. Tetapi hidup adalah pilihan, saya lebih memilih menjadi isteri yang berdiam dirumah, mengurusi segala sesuatu urusan rumah tangga dengan nyambi menjadi tenaga medis lepas ketimbang mendapat kesempatan sebagai seorang mahasiswi dengan kehilangan uang, waktu, tenaga, bahkan mungkin harga diri dan kenyataan pahit yang akan saya terima adalah perkantoran tidak menerima wanita yang sudah menikah.
Mungkin pilihan saya mencengangkan saat ini. “Jadi bidan kan gajinya sedikit?” Siapa bilang? Percayalah, apabila kepuasaan seseorang dalam menjalani pekerjaannya diukur dengan uang, maka bersiaplah untuk kecewa. Karena apa sih yang bisa kita harapkan dari atasan yang korup? Lembaga yang membela donatur? Atau lahan kerja yang bisa merugikan banyak makhluk? Uang hanya akan membuat kita malas kerja.
Saya memilih menjadi seorang bidan terutama karena saya memang sangat gemas dengan bayi yang baru dilahirkan. Bayi polos dengan segala kekurangan dan limpahan kasih sayang ketika ia di dalam dekap hangat ibunya. Kedua karena menjadi bidan tidak terikat dengan atasan, donatur kotor, bahkan lahan kerjanya adalah partner-partner yang mulia, serta waktu kerja yang ditawarkan semau kita!
Saya sudah memutuskan untuk mengabaikan hak saya berupa PMDK, dan menjalani apa yang bisa saya selesaikan ke depan.
Aku Adalah Isteri
Februari 19, 2008 oleh utheas

Boleh juga pemikiranmu soal jika menjadi bidan dan isteri. Dalam hidup ini khayalan harus kita beri makna agar bisa jadi tuntunan. Jadi apa pun asal membawa manfaat bagi orang banyak pastilah akan membahagiakan.
Selamat menuju cita-cita dengan semangat dan kecerdasan emosional yang maksimal!
Tabik!
wohoho,,ada2 aja. moga lu2s n get the best college 2 u
sista ku satu ini…
bukan bidan biasa… (BBB)
um um