Aku menggeleng lelah ketika tanganku terluka karena mencuci sepeda motor yang dipakai ayah. Ayah hobi memancing di tempat terpencil yang jalannya rusak dan membuat sepeda motorku sulit dicuci.
Aku membanting sikat dan melemparkan sabun ke jok sepeda motor. Sambil marah-marah aku mengeluarkannya dari garasi dan menghadapkannya ke luar pagar. Aku berencana mencucinya ditempat pencucian umum saja ketimbang marahku menjadi-jadi dan membuatku durhaka.
Ketika sampai di tempat pencucian sepeda motor itu, aku segera disambut gembira oleh pemuda-pemuda pegawai usaha pencucian itu. Mereka berebut menawarkan diri sebagai pencuci. Aku hanya tersenyum dan meninggalkan sepeda motorku, menuju balai-balai yang beratapkan rumbia.
Pemuda berusia belasan yang memakai topi dengan sigap menggotong sepeda motorku lalu mulai menyikat dan menyemprotnya dengan selang air. Ia juga menghempaskan ember kecil berisi sabun ke depannya. Dengan cepat dan cekatan ia menggosok, seolah tidak merasa sakit ketika terkena kawat atau jeruji.
Sebuah mobil mewah datang. Mereka mulai menawarkan diri lagi, si supir memilih calon pencuci yang kulitnya paling cerah. Aku melihat lelaki berperut buncit dan lelaki yang sudah berumur kecewa dengan pilihan supir itu. Mereka duduk kembali dan menunggu rezeki yang lain akan datang.
Aku tersentuh dengan semangat mereka. Dan aku juga merasa tidak enak karena ketika pertama sampai ke sini, aku memandangi air yang mengalir di kakiku dengan jijik. Aku merasa aku adalah perempuan sok suci, sok borjuis.
Aku memandangi mereka yang menggigil karena mereka memakai pakaian yang basah. Aku sangat terenyuh, begitukah orang tuaku rela berkorban demi memberiku makan? Aku memandangi semua pegawai di tempat pencucian itu, mereka semangat dan cekatan dengan pekerjaan mereka, kecuali dua lelaki yang belum beruntung itu. Aku berdoa di dalam hati, semoga mereka semua mendapat berkah dan penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Mereka adalah kumpulan pemuda-pemuda yang kurang beruntung namun mencoba peruntungan dengan jalan terpuji. Aku lebih senang bertemu mereka dari pada anak pejabat.
Semua orang tahu alasannya.
Aku memperhatikan pemuda tadi, bagian yang tidak pernah aku sentuh pun di sikatnya sampai mengkilap. Sejak membeli tujuh tahun lalu, debu di bawah slebor tidak pernah kulirik dan hari ini, dalam sekejap aku melihat sepeda motorku seperti tujuh tahun yang lalu.
Lelaki itu dengan senyum riang bercanda dengan lelaki lain yang sedang mencuci mobil mewah. Aku bisa membaca seolah mereka tidak peduli dengan lelah dan penat dari lengan mereka.
Ketika selesai, pemuda tadi menghampiri aku dengan semangat. 25 menit berlalu tanpa berhenti dari memungsikan tangannya, ia tersenyum kepadaku sambil memberikan kunci. Ketika kutanyai, harga yang tidak masuk akal membuatku semakin iba dengan kepolosannya. Sebelas ribu rupiah bukanlah harga yang pantas untuk semangat mereka dan tangan cekatan yang aku tidak pernah punya.
Cuci Sepeda Motor
Februari 19, 2008 oleh utheas

Aku kadang juga suka menyerahkan urusan bersih-bersih sepeda motorku dengan para penjual jasa pencucian sepeda motor itu. Ini aku lakukan jika lagi cape-capenya dan suntuk. Sekarang pencucian sepeda motor sudah bertebaran di mana-mana. Dari harga 6000 sampai 12.000. Dari yang menawarkan ektra semir ban, sampai cuci salju. Namun, tetap tak ada yang sempurna cucinya. Masih ada bagian-bagian yang agak terlindung yang tak dibersihkan. Namun, itu sudah lumayan. Kerja mereka sudah maksimal. Dan jika kita memberi kesempatan pada mereka untuk mencuci motor kita, ini juga bagian dari saling berbagi : berbagi dengan hati!
Selamat telah punya rumah di dunia maya ini. Teruslah menulis dengan cerdas dan independen.
Tabik!