Ibu meminta saya untuk membeli nasi goreng untuk oleh-oleh beliau ke pesantren adik ke kedai yang lumayan terkenal. Dengan senang hati karena imbalan berupa seporsi nasi goreng lezat, saya segera menuju kedai itu. Malam yang cukup cerah ini membuat kedai itu ramai dikunjungi orang, bahka lebih ramai dari hari-hari biasa karena sekarang malam Minggu.
Saya bingung harus melakukan apa karena pengunjung bejubel. Saya terpaksa kembali ke parkiran, menunggu pengunjung berkurang. Saya duduk berdampingan dengan pria bertubuh mungil.
Setelah pengunjung lumayan berkurang, saya dan pria mungil tadi menuju ke kedai. Pria itu segera mengibas-ngibaskan uangnya dan memesan satu porsi nasi goreng yang paling murah, tanpa lauk apapun. Namun yang membuat saya terenyuh adalah, penjual nasi goreng itu melayani saya tanpa menghargai pria tadi.
Ketika aku perhatikan lebih seksama, pria tadi berkulit legam. Wajahnya kecil, rambutnya kriting tidak beraturan. Ia menggunakan kaus dekil hadiah ketika pesta rakyat dan celana pendek yang sangat lusuh. Aku melirik kakinya, ia telanjang kaki dan kuku-kukunya rusak.
Ia sedikit iri denganku karena gilirannya diserobot, namun aku hanya diam tidak kuasa berkata apa-apa kepadanya begitu juga memprotes si penjual. Ia mengeluarkan suara yang aku dengar seperti rintihan sambil mengibas-ngibaskan uangnya lagi.
Beberapa pengunjung datang dan segera memesan tanpa mengantri. Aku melihat ke arah lelaki itu, ia hanya diam ketika dizholimi. Aku bersuara lantang dan sangat mengganggu si penjual, aku meminta keadilan dari penjual untuk melayani beliau.
Penjual itu segera membungkuskan nasi goreng kepada pria mungil tadi. Setelah mendapat sebungkus nasi, senyumnya mengembang menjadi obat kepedihan setelah seharian mencari berkah. Aku tak kuasa menahan air mata, mataku berkaca-kaca sambil memerhatikan kepolosan beliau.
Ia berlalu menuju parkiran kemudian mengeluarkan seonggok rangkaian besi tua berbentuk sepeda dengan perlengkapan bertukang yang diikat. Ia tidak mengendarai sepeda itu hingga di jalan raya, saat kuperhatikan ternyata bannya kempes.
Dalam benakku, pastilah ia seorang ayah. Aku membayangkan anak-istrinya menungguinya di dalam gubuk dalam keadaan kelaparan.
Setelah nasi goreng kudapatkan, aku pulang. Hujan lebat disertai badai menghantam dinding dan atap rumah setelah aku menyelimuti diri di kamarku. Suara riuh angin puting beliung yang menghantam kelurahan sebelah terdengar hingga ke tembok kamarku.
Ayah ibuku di jalan.
Pria Mungil
Februari 19, 2008 oleh utheas
