Ibu dan kedua puteranya satu liang
Ayah dan seorang balitanya satu keranda
Mayat-mayat balita tak berdosa teracung ke atas
Tidak ada lagi rumah sakit yang menyembuhkan
Tiada hari tanpa men-sholatkan jenazah
Tiada hari tanpa jerit dan tangis pilu
Ayah-ayah terpaksa berjuang dengan menggendong mayat anaknya yang tadinya begitu semangat membela agamanya, membela harga diri keluarganya
Namun akhirnya mereka berdua menjadi mayat
Tidak ada yang bisa dilakukan muhrimnya selain menangisi dan menciumi raga tak berjiwa itu
Ribuan lukisan airmata tersimpan di dalamnya lautan darah…
Gambar-gambar yang menyingkap airmata ibu yang meratapi tubuh anaknya
Wajah keriput yang telah kering airmata, mencium wajah damai puteranya yang telah menyelesaikan tugasnya sebagai tentara Allah. Begitu pucat dan penuh kemenangan
Air mata isteri yang kehilangan suaminya
Wanita berhidung mancung, cadarnya basah
Memegangi selembar kenangan dari yang sangat dicintainya
Kini tak tahu di mana lelaki tempatnya mengadu rasa
Apakah Allah sudah mengangkatnya ke langit?
Apakah makhluk Allah yang belum mendapat hidayah telah menyergapnya di suatu tempat tanpa memberinya makan?
Ataukah ia masih bergumul dengan lautan darah bersama tentara2 Allah lainnya?
Air mata anak yang kehilangan topangan hidupnya
“Abi…” teriak balita-balita yang seharusnya setiap pagi mereka ciumi tangannya.
Siapa sekarang yang memberi mereka jajan?
Siapa yang akan memberi mereka rasa aman?
Siapa yang memberi mereka pengertian bahwa Allah itu maha pengasih?
Airmata saudara kita yang kehilangan sebagian dari tubuhnya
Lelaki tegap dengan tangis dan tubuh lemah menggendong tubuh lunglai tak berdaya. Lelaki itu menangis tak henti ketika ia tahu benwa ia sedang menggendong mayat sahabat yang paling dicintainya
Sahabat sejak kecil
Sahabat bermain sepak bola
Sahabat untuk mencurahkan asa
Sahabat pemberi semangat
Sahabat yang memberikan tawa
“SEKARANG AKU MENGGENDONG MAYATNYA!” teriaknya.
Jalan-jalan yang dulu indah kini menjadi kuburan masal
Rumah-rumah indah nun kokoh tempat berteduh kini tidak lagi tampak nyaman, hancur
Namun dari sela-sela itu masih ada terdengar tawa balita botak
Ummi pun masih bersyukur bahwa ia masih memiliki balita malang tak berayah itu
Kecerian masih ada di balik reruntuhan rumahnya yang telah susah payah mereka bangun
Namun ketakutan, kecemasan, kengerian tidak dapat disembunyikan dari sebuah keceriaan…
Sosok anak-anak mungil dan cantik, kini terbungkus kain pocong
Tubuh tegap dan gagah, kini sedang diangkut dalam keranda hijau
Tidak satu dua, saudaraku, tetapi jutaan
Tangan-tangan bertengadah terangkat ke atas
Wajah sendu kering airmata, bibir bergetar, namun mereka yang teraniaya masih mengingat Rabb yang Maha Pengasih
Meminta bantuan-Nya yang Maha Hebat, yang Maha Pemilik Rahasia
“Ya Allah, akhirilah peperangan ini dengan Kuasa-Mu. Berilah kami ketabahan dan kekuatan dalam menjalani hidup tanpa orang-orang yang kami kasihi. Ampunkanlah dosa-dosa mereka yang telah gugur membela kami. Hanya kepada Engkau kami meminta, hanya kepada Engkau kami berserah diri. Amin.”

Wah, tulisanmu kali ini puitis banget.
jadi semangat baca.
Apalagi musim hujan kaya gini.
Bikin hangat dan sejuk!
Tabik!
puisinya bagus, membuatku terkadang merinding…
salam kenal, kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com
oke
Hei hei …
Bangun, bangun …
Ujian nasional sudah berlalu.
Tunggu hasil dengan doa dan optimisme.
Dan sekarang,
Gauli kembali blog Kamu.
Tabik!