Setahun yang lalu, ketika saya duduk di kelas XI SMA, pengajar Bahasa Indonesia meminta kami menuliskan 10 judul buku (di luar pelajaran—diutamakan sastra—) yang pernah kami baca. Saya yang dulu kurang berminat membaca sastra tebal dan dengan bahasa sulit dicerna, langsung mengerutkan dahi, tanda tidak mampu.
Teman saya yang senang berpikiran simpel memberi saran agar saya menuliskan judul buku atau komik yang saya senangi. “Bukankah itu sastra?” ujarnya.
Komik Doraemon dan Conan memang mejadi camilan ketika senggang. Tetapi itu bukan sastra, jarang ada kalimat-kalimat indah dan menggugah rasa. Ini tidak benar, saya menyangkal.
Menurut pemikiran saya saat itu, saya harus membaca 10 buku sastra berupa novel berat dan tidak menarik untuk dibaca remaja sekarang ini.
“Layar Terkembang”, “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, “Siti Nurbaya”, “Salah Asuhan”, “Banyak Jalan Menuju Roma”, memang pernah saya baca resensinya. Dari sana saya sudah bisa menebak alur dan konsep cerita. Ketika saya mendengar teman-teman yang pernah melahap buku-buku itu, tebakan saya benar. (Mohon diperhatikan, saya tidak memiliki kepentingan apapun pada judul-judul novel di atas)
Saya menjadi ciut sendiri. Saya baru sadar belum ada satupun sastra yang pernah saya baca.
Salah satu teman saya bertanya kepada pengajar, “Harry Potter boleh, Bu?”
Pengajar tidak meng-iyakan atau melarang. Beliau hanya menyarankan buku lain yang lebih berkualitas ketimbang buku khayalan untuk anak-anak.
Saya tidak memiliki pilihan lain. Akhirnya saya menulis judul-judul berikut di buku tugasku:
Harry Potter (1-6), Penghargaan Islam atas Yesus, Rahasia Bintang, Jomblo, Cinta BrontoSaurus.
Ketika Minggu lalu saya membuka buku tugas itu, saya tertawa senidiri ketika membaca ulang tulisan saya itu. Beda sekali dengan sekarang. Dalam setahun ini saya sudah melahap novel-novel keren karangan Dan Brown, Habibburrahman El Shirazy, dan yang lainnya. Minat baca saya tumbuh berkat penyesalan saya terhadap kurangnya buku bermutu yang saya baca.
Pesan moral: Mendongkrak Minat Baca, Mengurangi Kebodohan
Halaman ini dilanjutkan oleh sub-halaman.

Sudah baca Hafalan Surat Delisa karya Tere-Liye?
Baru baca juga sebenernya (padahal terbitnya udah lama), waktu ke rumah sepupu dan nemu buku itu nangkrin dengan manisnya di rak buku dia.
Mungkin itu termasuk karya sastra? Soalnya penerbitnya kalo ga salah Republika atau apa gitu, ya… salah satu koran nasional kita. Biasanya kan cerita yang ada di situ bagus-bagus.
Mpe nangis, bacanya, hikz…
Deception Point, sama Angel and Demon, dari kemaren ga sempet-sempet baca. Bahkan Digital Fortress pun baru 1/4-nya! Dan ga terselesaikan karena bacanya di rumah sepupu!
T______T