Saya baru menyadari ternyata kisah legendaris “Layla dan Majnun” memiliki banyak versi. Namun yang berkembang sekarang hanya dua jenis.
Karya Nizami yang saya baca memiliki kisah yang unik dan miris, walaupun sesekali terasa dipaksakan. Bagaimana tidak, menurut A.S. Laksana, sastrawan yang menulis buku “Creative Handwriting” ini menyampaikan bahwa bila menuliskan dialog, tulislah pendek-pendek karena orang berbicara pendek. Nah, di novel ini kita justru dihadapkan dengan “petikan bicara mencapai dua halaman”.
Selain itu alurnya sangat lambat dan itu-itu saja. Namun, dalam hal pesan moral, Novel Layla Majnun memiliki asa yang menusuk dan ajaran-ajara yang indah.
Cerita Layla Majnun ini dimulai dari seorang saudagar kaya yang menanti diberikan turunan. Setelah anak itu lahir dan berkembang, ia disekolahkan. Alangkah bangganya saudagar itu terhadap anak yang diimpikannya, Qais. Ia merupakan pemuda yang tampan, gagah, dan banyak harapan yang tercurah kepadanya.
Ia jatuh cinta kepada seorang gadis, siswi baru di sekolahnya, Layla. Sebenarnya banyak yang menjadi saingan Qais, namun karena ia paling menonjol, ialah yang akhirnya paling dekat dengan Layla dan berhasil merajut kasih dengannya.
Qais mencintai Layla hingga ia menjadi gila. Sesungguhnya Layla pun mencintai Qais, namun karena Qais terlanjur gila (majnun), keluarga Layla tidak merestui mereka dan keluarga Layla lebih memilih laki-laki lain untuk disandingkan dengan Layla.
Majnun semakin sedih dan ia berkelana tidak tentu arah. Sosok pangeran ditubuhnya sudah tidak ada lagi, selain kesedihan dan senandung tiada henti untuk kekasih hatinya, Layla. Karena puisi-puisi Majnun indah, banyak pengembara atau saudagar hapal lalu menyenandungkannya. Puisi indah itu akhirnya terdengar oleh kekasihnya yang sekarang terkurung di sangkar emas, istana suaminya, Layla pun semakin hancur hatinya.
Cerita semakin memeras air mata setiap kita membuka lembaran-lembaran selanjutnya. Apalagi saudagar tua, ayahnya Qais, yang sangat ingin anaknya menjadi penerusnya akhirnya meninggal dalam kelambu kesedihan.
Score : 80
